Dalam 6 Bulan, Pembobolan Transaksi Kartu Capai Rp 31,37 Miliar

Dalam 6 Bulan, Pembobolan Transaksi Kartu Capai Rp 31,37 Miliar
Herdaru Purnomo – detikFinance

http://finance.detik.com/read/2011/08/19/154801/1706965/5/dalam-6-bulan-pembobolan-transaksi-kartu-capai-rp-3137-miliar

Dalam 6 Bulan, Pembobolan Transaksi Kartu Capai Rp 31,37 Miliar
Herdaru Purnomo– detikFinance 



Jakarta– Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah pembobolan (fraud) dari Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) selama semester I-2011 mencapai Rp 31,37 miliar. Adapun jumlah kasusnya mencapai 9.419 kasus.Demikian dikutip detikFinance dari Data Perkembangan Transaksi Sistem Pembayaran yang disampaikan Tim Perizinan dan Informasi Sistem Pembayaran Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran BI di Jakarta, Jumat (19/8/2011).

Alat pembayaran menggunakan kartu terdiri dari gabungan dari kartu kredit, kartu debet/ATM dan uang elektronik alias e-money. Selama 2010 BI mencatat fraud APMK mencapai 18.122 kasus dengan nominal Rp 55,22 miliar.

BI mengungkapkan fraud yang kerap kali dilakukan dan terjadi yakni adalah lost and stolen card. Lost and stolen card adalah upaya pencurian kartu dari pemegang, baik dengan cara mencurinya langsung ketika sedang digunakan, maupun ketika disimpan oleh pemegang.

Berikut contoh-contoh fraud yang kerap terjadi di APMK yakni :

Fraudulent Applications/FA

Fraudulent application merupakan jenis fraud yang dilakukan fraudster atau pembobol yang berpura-pura sebagai calon pemegang kartu dengan cara memberikan data-data identitas palsu pada saat pengisian formulir pengajuan kartu baik itu kartu kredit, ATM, dan Debet.

Account Takeover

Fraud jenis ini dilakukan oleh fraudster dengan cara mengubah identitas pemilik kartu seperti alamat yang terdaftar pada kartu yang telah ada sebelumnya

Unauthorized Use of Account Numbers

Fraudster menggunakan kartu yang bukan miliknya untuk melakukan pembelanjaan melalui mekanisme transaksi yang tidak membutuhkan keberadaaan kartu (card not present) dan transaksi bersifat online. Biasanya fraudster hanya membutuhkan identitas lengkap pemilik kartu. Transaksi belanja ini akan ditagihkan kepada pemilik kartu atau account yang sah, sementara produk/jasa yang telah dibeli melalui fasilitas online diterima oleh fraudster. Akibatnya pemilik kartu dibebankan kewajiban pembayaran yang tidak pernah dilakukan sebelumnya oleh si pemilik kartu.

Counterfeit Cards and Skimming

Counterfeit cards dan skimming adalah jenis fraud yang paling banyak terjadi. Mekanismenya lebih canggih dibandingkan dengan fraud jenis lain. Fraud jenis ini biasanya terjadi pada kartu yang masih menggunakan magnetic stripe sebagai media penyimpan data.

Ketika kita berbelanja dan bertransaksi menggunakan kartu debet, kita akan memberikan kartu untuk digesek di mesin yang dinamakan Electronic Data Capture (EDC) oleh cashier. EDC tersebut merupakan mesin yang bekerja untuk meng-capture data identitas pemilik kartu dan transaksi yang dilakukannya untuk kemudian dicetak ke dalam kartu yang lain (dipalsukan) untuk digunakan sebagaimana kartu aslinya.

Account Testing

Istilah fraud jenis ini memang jarang terdengar. Namun fraud inilah yang paling dulu dilakukan sebelum fraudster memulai modus operandinya. Kartu-kartu yang dicuri (stolen card) maupun account number yang didapat dari proses skimming dites validitas dan kelayakannya untuk di-fraud satu per satu.

Tes yang dilakukan cukup sederhana, dengan memakai account tersebut untuk berbelanja online dan melakukan serangkaian otorisasi. Jika lolos dalam proses otorisasi tersebut, maka account atau kartu yang telah dites selanjutnya dapat digunakan dalam modus fraud lainnya.

ATM Scams

Mekanisme fraud ini sering ditemukan pada tempat-tempat dimana mesin ATM dipasang. Biasanya di tempat-tempat umum yang kurang ketat penjagaannya maupun di lingkungan yang sepi. Mesin ATM dipasang alat sejenis perekam maupun kamera yang dapat merekam no PIN yang dimasukkan oleh pemilik kartu. Mekanismenya berbeda-beda. Ada yang dilakukan dengan cara memasukkan alat perekam data pada slot tempat kartu dimasukkan maupun kamera yang dipasang tersembunyi untuk merekam penginputan PIN oleh pemilik kartu.

Not Received Items (NRI)

Apakah Anda pernah mengajukan permohonan untuk memiliki kartu kredit tapi kartu tersebut tridak pernah sampai ke tangan Anda ? Bisa saja kartu atas nama Anda telah di-fraud. Fraud yang mungkin terjadi dan dikenal dengan istilah Not Received Items (NRI).

Fraudster bisa saja adalah orang dalam maupun orang luar yang mendapatkan informasi mengenai pengiriman kartu. Untuk mengantisipasi fraud ini, seluruh penyelenggara APMK telah menjalankan serangkaian Sistem Operation Procedure (SOP) bahwa ketika dalam waktu 30 hari kartu tidak diterima oleh pemilik kartu, maka otomatis account pada kartu tersebut diblokir oleh penyelenggara yang menerbitkan.

Identity Theft

Fraud jenis ini merupakan salah satu modus yang paling marak saat ini. Dengan sedikit informasi identitas pemilik kartu , fraudster sudah dapat melakukan sejumlah modus kejahatan baik itu penipuan maupun pencurian, seperti membuka rekening di bank dan menerbitkan cek kosong, membuka account kartu kredit kemudian tidak bertanggung jawab menyelesaikan kewajibannya dan lain sebagainya.

Phising

Phising adalah jenis fraud yang menggunakan sarana software pada komputer untuk merekam perkembangan jumlah account kartu kredit dan rekening di bank beserta identitas lengkap pemiliknya pada website. Selain itu mereka juga biasanya menduplikasi website perusahaan-perusahaan finansial sehingga tampilannya persis dengan aslinya.

Pharming

Mekanisme fraud jenis ini merupakan hasil modifikasi dari account testing dan fraud phising. Setelah fraudster memperoleh data-data identitas melalui metode phising, maka data-data identitas tersebut dikumpulkan, kemudian dilakukan proses account testing, menguji kelayakan satu demi satu account yang telah ter-capture baik data maupun identitas pemilik kartu.

Setelah didapat account yang layak untuk di-fraud maka fraudster tidak langsung memakai account tersebut untuk berbelanja. Mereka menunggu kurang lebih satu tahun untuk menjalankan modus operandi mereka.

Biasanya, fraudster yang telah profesional memilih waktu dan tempat yang cocok untuk menjalankan fraud-nya. Setelah menemukan waktu dan tempat yang cocok, maka fraud dijalankan dengan ‘memanen’ account-account yang telah layak pakai untuk berbelanja sepuas2nya menggunakan account tersebut. Istilah panen tersebut dikenal dengan pharming.

Posted in Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Pembobolan Rekening Nasabah Bank Mandiri Digagalkan

Pembobolan Rekening Nasabah Bank Mandiri Digagalkan

Selasa, 26 April 2011 | 15:45 WIB Besar Kecil Normal foto TEMPO/Eko Siswono Toyudho TEMPO Interaktif,

http://www.tempo.co/hg/jogja/2011/04/26/brk,20110426-330206,id.html

Surakarta – Upaya pembobolan rekening milik nasabah Bank Mandiri Surakarta yang dilakukan oleh karyawan outsourcing-nya berhasil digagalkan. Nasabah bank yang merupakan pengusaha retail tersebut nyaris kehilangan uang dalam rekeningnya senilai Rp 1.117.900.000. Berita terkait * Manager Pabrik Kertas Ditemukan Tewas di Rumahnya * Waspadai Sekitar Jembatan Penyeberangan * Tiga Siswa SD Coba Racuni Temannya * Polisi Tidak Akan Gunakan Hasil Otopsi Irzen yang Baru * Luka Memar Ada di Sekujur Tubuh Irzen Octa * Kepala Kepolisan Sektor Pasar Kliwon, Ajun Komisaris Sis Raniwati, menjelaskan percobaan pembobolan itu sudah berlangsung sejak Januari lalu. “Pelaku berhasil kami tangkap Senin kemarin,” kata Sis, Selasa (26/4). Dia menjelaskan, tersangka pembobolan rekening berinisial L tersebut merupakan karyawan outsourcing bagian arsip dari Bank Mandiri Cabang Pasar Klewer Surakarta. “Pada Januari lalu, dia mencuri satu lembar cek dari buku cek yang seharusnya diserahkan kepada korban,” kata Sis. Saat menerima buku cek tersebut, korban yang bernama Han itu tidak menyadari jika buku ceknya hilang satu lembar. Selanjutnya, pada Kamis (21/4) lalu, tersangka mengetahui jika Han akan melakukan transaksi dengan nilai di atas Rp 1 miliar dengan Bank Mandiri di hari Senin (25/4). Sebagaimana lazimnya, nasabah harus melakukan konfirmasi terlebih dahulu dengan pihak bank jika akan melakukan pencairan dana dengan nominal besar. Sebelum korban melakukan transaksi, tersangka mendahuluinya dengan mencoba mencairkan cek dari lembaran cek yang dicuri dari korban. Hanya saja, pencairan itu tidak dilakukannya sendiri. Dia menyuruh salah satu kerabatnya yang bernama Nas untuk mencairkan cek itu di kantor Bank Mandiri cabang Gladak Surakarta. Menurut Sis, bank sempat nyaris terkecoh saat mengkonfirmasi pencairan cek itu kepada nasabah. “Saat dikonfirmasi, korban menyatakan bahwa memang betul dia akan mencairkan dana dalam jumlah besar pada hari itu,” kata Sis. Hanya saja, terdapat beberapa perbedaan antara nominal dana yang akan dicairkan dengan nominal yang tertulis dalam cek. Korban pada saat itu hendak mencairkan dana sebesar Rp 1.117.230.000, bukan Rp 1.117.900.000 seperti yang tertulis dalam cek. Pencairan cek juga akan dilakukan dengan empat lembar cek, bukan dengan satu lembar seperti yang dibawa oleh Nas. Pihak bank kemudian meminta kepada korban untuk datang ke bank. Setelah dipertemukan, korban menyatakan jika Nas bukan orang suruhannya. Akhirnya, korban bersama Bank Mandiri melaporkan kasus percobaan pembobolan rekening tersebut ke polisi. “Saat ini status Nas masih sebatas saksi,” kata Sis Raniwati. Sementara, L selaku otak telah ditangkap dan ditahan dengan status tersangka. Sis beralasan Nas tidak mengetahui jika cek yang dibawanya itu merupakan barang curian. Saat ditanya, L mengaku telah bekerja sebagai karyawan outsourcing di Bank Mandiri selama delapan tahun. “Uang tersebut akan saya gunakan sebagai tabungan di hari tua,” kata L yang berusia 45 tahun tersebut. Sebelum mencoba membobol rekening, L mengaku telah membuka rekening di bank yang sama, untuk tempat menyimpan uang tersebut. Dia membuka rekening dengan menggunakan data-data palsu. “Data saya peroleh dari arsip lama yang kemudian sedikit saya ubah,” kata L. Dalam kasus tersebut, polisi akan menjerat pelaku dengan menggunakan pasal 362 KUHP mengenai pencurian. Tersangka juga akan dijerat dengan pasal 263 KUHP tentang pemalsuan surat. “Ancaman hukumannya hingga enam tahun penjara,” kata Sis Raniwati. AHMAD RAFIQ

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

5 Pembobolan Bank di Indonesia tahun 2011

5 Pembobolan Bank di Indonesia tahun 2011

http://www.uniknya.com/2011/05/5-pembobolan-bank-di-indonesia-tahun-2011/

Oleh: Eris Abdurahman

[UNIKNYA.COM]: Boleh jadi, perasaan masyarakat Indonesia saat ini untuk menyimpan uangnya di bank akan mulai was-was. Sebab, sejak awal tahun ini, banyak kejadian pembobolan bank di Indonesia seperti berikut ini:

 

1. Bank Mega Cabang Jababeka-Cikarang (Rp111 miliar dan Rp80 miliar)

Deposito milik PT Elnusa sebesar Rp111 miliar dicairkan tanpa sepengetahuan perusahaan. Pelaku utama Direktur Keuangan PT Elnusa yang kongkalikong dengan kepala cabang bank tersebut. Tak lama berselang, kejahatan kerah putih di bank ini terjadi setelah polisi menemukan pembobolan kas daerah Kabupaten Batu Bara, Sumsel, sebesar Rp80 miliar.

Bank Mega (sumber: jabartribunnews)

 

2. Citibank Cabang Landmark,Jakarta (Rp16 miliar)

Dana milik sejumlah nasabah prioritas digelapkan oleh Inong Malinda alias Malinda Dee. Kasus ini kemudian berkembang setelah ekspos mobil mewah milik Malinda, juga penahanan aktor Andika Gumilang yang diduga menjadi suami siri Malinda.

Citibank (sumber: bisnisjabar)

 

3. BII, Jakarta (Rp3,6 miliar)

Kredit dengan dokumen dan jaminan fiktif dengan pelaku account officer BII Kantor Cabang Pangeran Jayakarta.

Bank BII (sumber: blogspot)

 

4. Panin Bank Cabang Metro Sunter  (Rp2,5 miliar)

Dana nasabah digelapkan Kepala Operasional di cabang bank tersebut.

Panin Bank (sumber: gresnews)

 

5. Bank Danamon Cabang Pembantu Menara Bank Danamon (Rp1,9 miliar dan $110.000)

Uang kas di bank ini ditarik berulang-ulang oleh teller.(**)

 

Bank Danamon (sumber: banyumasnews)

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Sejarah Singkat Jaringan Komputer

Sejarah Singkat Jaringan Komputer

Pada tahun 1940-an di Amerika ada sebuah penelitian yang ingin memanfaatkan sebuh perangkat komputer secara bersamaan. Pada tahun 1950-an ketika jenis komputer membesar sampai tercipta super komputer, karena mahalnya harga perangkat komputer maka ada tuntutan sebuah komputer mesti melayani beberapa terminal. Dari sini maka mulcul konsep distribusi proses berdasarkan waktu yang dikenal dengan nama Time Sharing System (TSS), bentuk pertama kali jaringan komputer diaplikasikan. Pada system TSS beberapa terminal terhubung secara seri kesebuah host komputer.

Selanjutnya konsep ini berkembang menjadi proses distribusi (Distributed Processing). Dalam proses ini beberapa host komputer mengerjakan pekerjaan besar secara paralel untuk melayani beberapa terminal yang tersambung secara seri disetiap host komputer.

Selanjutnya ketika harga-harga komputer kecil mulai menurun dan konsep proses distribusi sudah matang, maka penggunaan komputer dan jaringannya mulai beragam, dari mulai menangani proses bersama maupun komunikasi antar komputer(Peer to Peer System) saja tanpa melalui komputer pusat. Untuk itu mulailah berkembang teknologi jaringan lokal yang dikenal dengan Local Area Network (LAN). Demikian pula ketika internet mulai diperkenalkan, maka sebagian besar LAN yang berdiri sendiri mulai berhubungan dan terbentuklah jaringan raksasa ditingkat dunia yang disebut dengan Wide Area Network (WAN).

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment